Postingan

Menampilkan postingan dengan label prosa

Gembala

Gambar
Kelahiran tak ubahnya awal dari peluruhan unsur radioaktif yang lambat laun akan habis. Dan mungkin mimpi itu akan menjadi kenyataan, walau itu hanya sebuah evidensi belaka. Dilahirkan dalam dekapan harimau angan-angan. Dibaptis dengan iringan senandung tentara bayaran. Disebut sebagai samurai tak bertuan. Semuanya hanya bayangan belaka. Tak akan menjadi kenyataan. Absurditas yang tepat untuk menyatakan semuanya.

Sebuah Catatan Kecil

Gambar
Ramadhan ini tidak seperti Ramadhan ditahun-tahun yang lalu. Ramadhan ini adalah Ramadhan dimana aku berada pada titik balik perjalanan religiku. Ramadhan ini adalah puncak dari ketidak-taatanku kepada TUHAN-ku yang telah menciptakanku, puncak ketidak-patuhanku kepadaNYA. Di Ramadhan ini, aku merasa sebagai seorang kafir yang sedang mengharap uluran kasih dari TUHAN, mengharap iba TUHAN, mengharap rahmatNYA agar aku bisa keluar dari ke-kafir-an ku. Ramadhan ini, sungguh sangat membuatku merasa kecil, merasa tidak ada arti, yang menjadikanku tidak lebih dari sebutir pasir di pantai, tidak lebih dari buih-buih yang muncul di antara riak gelombang di pantai kehidupan. Di Ramadhan ini, aku terpuruk dengan semua masalah yang kualami, terpuruk dengan semua kebodohan yang aku jalani, terpuruk karena sikap dan tindak-tandukku selama setahun ini. Di Ramadhan ini, aku tidak bisa berbagi. Tidak jua mau mengerti akan arti kehidupan ini. Tidak pula bersedia memahami apa yang telah terjadi. Na...

KENDIMU, GRABAHMU, KRANJANGMU ... IMPENKU

Gambar
Bapa ... tumetesing kringetmu wayah awan kang panas kadidene nraka iki nguripi anak, bojo lan putumu kang wis kok lakoni puluhan taun, puluhan taun saka sakdurunge aku lair. Sen mbaka sen, rupiah mbaka rupiah kok klumpukake minangka pangarep-arep soko impenmu nggayuh kamulyaning donya. Bapa ... kendi, grabah, kranjang kuwi wis dadi mitra kang tansah ngancani sliramu lumangkah ing sakdawaning dalan panguripan, wis dadi sisihan kang tansah mangerteni sambatmu ing jaman kang gilir gumanti, sajak wus mangerteni apa kang dadi penggalihmu.

Senandung Jalang "Lonthe" Pasar Kembang

Gambar
Tak seorangpun mau dan sudi menjadi seorang penjaja cinta. Dan tak ada yang mau ada lokalisasi di daerahnya. Namun semua itu tidak bisa ditolak dan dienyahkan dengan mudah. Apakah itu sudah menjadi takdir TUHAN bagi kita semua untuk bisa menyikapi kehidupan ini dengan lebih bijaksana. Atau itu adalah pelajaran bagi kita untuk lebih peka kepada sesama. Tulisan dibawah ini menarik untuk dibaca, menggambarkan geliat bisnis "basah" di Jogjakarta dari sudut pandang "seseorang" yang sedang berwisata di sana. Entah siapa yang pertama kali menulisnya, namun ini sangat pas untuk menggambarkan situasi di sana.