Postingan

Pantai

Gambar
Pantai ini hanyalah sebutir pasir yang terdampar di tepian. Bukan horizon memanjang penuh dengan keceriaan dan kegembiraan orang-orang yang menjadi pecinta untuk sementara waktu. Pantai ini hanyalah setetes air yang jatuh di permukaan bumi. Bukanlah pinggiran dari lautan lepas yang mau mewadahi semua keluh kesah, resah gelisah, dan gundah orang-orang yang merasa dirinya sebagai pecinta sejati. Pantai ini hanyalah persinggahan semu dari Sang Kala yang terus menerus melakukan pekerjaan menjemukannya. Pantai ini hanya menjadi teman dari seorang yang terpuruk, terempas dari kehidupan nyatanya. Pantai ini hanyalah menjadi persinggahan atas haus yang menderanya. Persinggahan atas rindu akan cintanya. Persinggahan atas lelah karena hidupnya. Persinggahan terakhir atas pencarian akan keberadaannya. Pantai ini hanyalah pantai. Dengan semua yang akan berkaitan dengannya. Sekarang, nanti, atau kelak.

Rupa dan Berupa

Rupa dan Berupa Ada yang berupa Rohaniawan, Ada yang berupa Politikus, Ada yang berupa Psikolog, Ada yang berupa Penyair, Ada yang berupa Pendosa, Ada yang berupa Pecinta, Ada yang berupa Motivator, Ada juga yang berupa Ekonom, Bahkan ... Berupa Militer! Lalu ... Termasuk manakah Aku? Ada teman berkata ... Kau termasuk yang berupa Pendosa! Aha! Ternyata aku masuk dalam golongan yang mereka anggap HINA itu ... Namun, aku menjadi bimbang lagi. Setelah aku masuk dalam golongan yang berupa Pendosa itu, lalu ... Apa sebenarnya wujud dan rupaku ini? Karena itu semua hanyalah berupa ... Bukan sejati-rupa-rupa-sejati ... Nirupa, Niraga, Nirasa, ... NIRWANA! Hanya doa, harapan dan usaha untuk menuju ke sana. ___________________________________________ boja duapuluh sembilan mei duaribu sepuluh

RAMADHAN

Gambar
Ramadhan, memang benar-benar bulan yang membawa berkah. Walaupun itu hanya untuk sebagian kecil manusia. Dalam menyambut bulan mulia ini, awam kita jumpai kelatahan-kelatahan yang sadar dilakukan atau tidak. Dan sering kita mengidentikkan bulan ini dengan sebagian kecil barang kebutuhan hidup manusia, dan bahkan ada yang mengidentikkannya sebagai bulan penertiban. Bukan apa-apa, Ramadhan memang bulan penertiban, menertibkan manusia dari segala hawa nafsu duniawi. Namun, sebagian kecil penertiban itu justru terjadi dan menimpa sebagian kecil saudara kita. Apa lagi jika bukan penertiban oleh Satpol PP. Mulai dari penertiban PKL, penertiban bangunan liar, sampai “penertiban” para dhuafa yang seharusnya menjadi perhatian kita semua, rakyat dan pemerintah—termasuk mereka, Satpol PP yang melakukan penertiban itu.

Ud'uni Astajib Lakum | Memintalah KepadaKU, niscaya AKU Kabulkan

Ada sebuah kiriman di laman blog dan tentang do'a berbuka puasa yang jamak kita ucapkan itu tidak shahih, karena haditsnya dho'if. Lalu, jika do'a puasa yang jamak kita lafalkan itu tidak shahih karena sebab di atas. Mengapa hal ini muncul baru sekarang? Bukan dulu-dulu waktu pertama Islam melakukan penetrasi di Indonesia? Padahal hadits itu muncul sudah dari dulu, bukan muncul sekarang ketika internet sudah merajalela. Jika memang do'a yang diajarkan itu tidak shahih, maka mengapa kiai-kiai dulu mengajarkan do'a tersebut? Lalu apakah kita hanya akan berdebat karena hadits-hadits versi mereka? Atau memang benarkah kita sudah lurus hati dalam berdoa, Ataukah kita selama ini hanya terpaku pada lafadz-lafadz dan kalimat-kalimat semata, tanpa mau perduli dengan hakikinya? Karena hakikat doa adalah meminta, meminta kepada ALLAH sebagai muara segala permintaan dan permohonan kita. Dan ALLAH tidak pernah mempermasalahkan dengan bahasa apa permintaan itu diucapkan.

Mudik: Tradisi Indonesia yang Mendunia

Gambar
Bajaj Trike untuk Mudik Sudah menjadi tradisi sejak masa lalu bahwa jika Idul Fitri menjelang maka siapapun orang akan bergegas untuk pulang ke kampung halaman. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan budaya mudik atau pulang kampung ini dimulai. Konon budaya pulang kampung atau mudik sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram Hindu dimana pada saat itu para penduduk yang bekerja di sekitar pusat kota kerajaan pada masa panen padi pulang kampung (mudik) untuk bertemu dengan sanak keluarga di kampung. Tradisi mudik itu kemudian dilanjutkan pada masa Islam. Mudik sendiri berasal dari kata udik yang artinya kampung atau gunung. Mudik diartikan sebagai bergerak menuju kampung. Pada masa kini tentunya pergerakan itu terjadi dari pusat-pusat kota urban menuju daera-daerah perkampungan dimana mereka berasal. Nilai mudik sendiri dapat dilihat dari sisi nilai positif: pertama yaitu nilai historis. Para pemudik dengan kembali ke kampung mendapatkan semacam inspirasi dan gairah baru.